Wibowo's Blog: April 2013

Senin, 15 April 2013

Profil ALESANA :
Genre / aliran asli alesana sendiri adalah post-hardcore, namun banyak yang menyebutkan bahwa Alesana sebagai icon musik emo dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi yang jelas mereka menciptakan lirik lagu yang dalam.
Kalau kalian perhatiin, mereka mempunyai khas dan keunikan tersendiri dalam bermusik terutama kombinasi vokal. Suara kalem yang bermelodi seperti kebanyakan alternative music, dipadukan dengan teriakan nyaring. Serta ada juga growl / teriakan seperti yang sering kita dengar di musik hardcore.
Alesana (sebenarnya di ambil dari kata alice-anna) band yang beraliran post-hardcore yang berasal dari Raleigh, North Carolina, USA pastinya. Berdiri sejak tahun 2004. Karya yang udah mereka buat satu EP, 7 compilations, dan 2 full album, dan satu cd produced tour.

Personil / nama anggota band :

* Dennis “Denny Diablo” Lee – Screaming vocals (2004-present)

* Shawn Milke – Vocals, Guitar, Piano (2004-present)
* Patrick “Peezee” Thompson – Lead guitar, Backing vocals during live performance (2004-present)        
                                                     

* Jeremy “Jables” Bryan – Drums (2005-present)
* Shane Crump – Bass guitar, Vocals (2007-present)



* Jake Campbell – Rhythm guitar (2008-present)


Kini mereka pun mempunyai beberapa album yaitu :

 * Try this with your eyes closed (2005)
 Judul Lagu, Durasi
 1. "Apology"  4:10
 2. "Endings Without Stories" 3:43
 3. "And They Call This Tragedy" 4:29
 4. "Not a Single Word About This" 3:30
 5. "Red and Dying Evening"2:58
 6. "Congratulations, I Hate You" 3:57
 7. "Early Mourning" 3:46
 8. "Goodbye, Goodnight for Good" 3:18
 9. "Beautiful In Blue" 3:17

 * on frail wings of vanity and wax (2006)
 Judul Lagu, Durasi
 1. "Icarus" 1:00
 2. "Ambrosia" 3:05
 3. "Pathetic, Ordinary" 4:00
 4. "Alchemy Sounded Good At The Time" 4:13
 5. "Daggers Speak Louder Than Words" 3:27
 6. "The Last Three Letters" 3:33
 7. "Apology" 5:18
 8. "Tilting The Hourglass" 3:48
 9. "This Conversation Is Over" 3:23
 10. "Congratulations, I Hate You" 4:02
 11. "The Third Temptation Of Paris" 3:42
 12. "A Siren's Soliloquy" 4:00
 13. "Nero's Decay" 4:26

 * Where Myth Fades To Legend (2008)
 Daftar Lagu, Durasi
 1. "This Is Usually the Part Where People Scream" 3:48
 2. "Goodbye, Goodnight, for Good" 3:15
 3. "Seduction" 4:45
 4. "A Most Profound Quiet" 3:17
 5. "Red and Dying Evening" 3:28
 6. "Better Luck Next Time, Prince Charming" 3:20
 7. "The Uninvited Thirteenth" 3:40
 8. "Sweetheart, You Are Sadly Mistaken" 5:26
 9. "And They Call This Tragedy" 3:43
 10. "All Night Dance Parties in the Underground Palace" 3:18
 11. "Endings Without Stories" 4:01
 12. "As You Wish" 3:26
 13. "Obsession Is Such an Ugly Word" 5:58
 14. "Beautiful In Blue (Bonus Track on the Japanese Release)" 3:28

 * The Emptiness (2010)
 Daftar Lagu, Durasi
 1. "Curse of the Virgin Canvas/Interlude 1" 4:49
 2. "The Artist" 3:46
 3. "A Lunatic’s Lament/Interlude 2" 4:05
 4. "The Murderer"4:33
 5. "Hymn for the Shameless" 5:38
 6. "The Thespian/Interlude 3" 4:42
 7. "Heavy Hangs the Albatross"  3:51
 8. "The Lover" 3:25
 9. "In Her Tomb By the Sounding Sea" 3:41
 10. "To Be Scared by an Owl/Interlude 4"  4:11
 11. "Annabel" 7:19

* A Place Where the Sun Is Silent (2011)
Act One: The Gate
Daftar Lagu, Durasi
1. "The Dark Wood of Error" 2:13
2. "A Forbidden Dance" 3:53
3. "Hand in Hand with the Damned" 4:36
4. "Beyond the Sacred Glass" 6:03
5. "The Temptress" 4:21
6. "Circle VII: Sins of the Lion" 4:32
7. "Vestige" 2:58
8. "Lullaby of the Crucified" 4:48

Act Two: The Immortal Sill
Daftar Lagu, Durasi
9. "Before Him All Shall Scatter" 0:54
10. "Labyrinth" 4:04
11. "The Fiend" 3:57
12. "Welcome to the Vanity Faire" 4:37
13. "The Wanderer" 1:37
14. "A Gilded Masquerade" 4:35
15. "The Best Laid Plans of Mice and Marionettes" 5:35
16. "And Now for the Final Illusion" 3:43

Rabu, 10 April 2013


Apa aja sih makanan khas Cirebon? Ini daftarnya: 

1. Empal Gentong

Kalau makan empal gentong ini, kita pas beli bisa bilang mau isinya apa: daging, usus, babat, dll. Kuahnya gurih dan enak banget apalagi kalo dimakan pas masih panas, wah mantaaaap. Yang potongan hijau kecil-kecil itu kucai. Satu lagi yang khas dari empal gentong ini, cabenya berupa bubuk. Dari kecil gw udah doyan banget makan empal + cabe bubuknya banyak-banyak, hehehe.


Disebut empal gentong karena masaknya pakai gentong besar (dari tanah liat). Selama jualan, baik yang digotong sama penjualnya atau yang didorong, gentong yang isinya kuah ini dipanasin terus. Jadi pas kita beli selalu dapat kuah hangat.



2. Nasi Lengko



Nggak lengkap rasanya kalau pulang ke Cirebon tapi nggak sempat makan nasi lengko.. Nasi lengko ini terdiri dari tahu goreng + tempe goreng + timun + tokol + kecap. Tapi rasanya bisa enak banget, nggak percaya? Cobain aja sendiri, harganya juga paling mahal cuma Rp. 3.000 ahahaha.

Mirip dengan empal, diatasnya ditaburin potongan kucai. Makin enak kalau makannya pakai sambal dan kerupuk udang.




3. Nasi Jamblang

Yang bikin nasi jamblang jadi khas itu karena nasinya dibungkus pakai daun jati dan porsi nasinya kecil-kecil banget. Minimal 2-3 bungkus sekali makan kalau buat cewek, buat cowok, tergantung kemampuan makan masing-masing ya . Lauk favorit gw: blakutak (cumi kalau bahasa indonesianya, yg warna item tuh), ama sate usus ditambah kuah tahu mantappp lah pokok nya maknyusss…






4. Tahu Gejrot
 


Tahu gejrot juga makanan khas Cirebon. Tahu gejrot terdiri dari tahu yang sudah digoreng kemudian dipotong agak kecil lalu dimakan dengan kuah yang bumbunya cabe, bawang merah, gula.kalo gw mah biasanya tahu gejrot beli 3 ribu make cabe 5 ama bawangnya 4 beuh mantaap terus juga biasanya disajikan di layah kecil yang terbuat dari tanah liat.






Segini dulu ya, ntar lanjut lagi, soalnya masih banyak makanan khas Cirebon, hehehe.

Senin, 08 April 2013

Sejarah Cirebon


Asal kota Cirebon ialah pada abad ke 14 di pantai utara Jawa Barat ada desa nelayan kecil yang bernama Muara Jati yang terletak di lereng bukit Amparan Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi.

Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan sebuah pemukiman di lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah Selatan dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari daerah-daerah lain yang bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban yang berarti campuran kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang.

Raja Pajajaran Prabu Siliwanggi mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala pemukiman baru ini dengan gelar Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali Cipamali di sebelah Timur, Cigugur (Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan Kromong di sebelah Barat dan Junti (Indramayu) di sebelah Utara.

Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah membawa upeti kepada Raja di ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim bala tentara, tetapi Cakrabumi berhasil mempertahankannya.

Kemudian Cakrabumi memproklamasikan kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon dengan mamakai gelar Cakrabuana. Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon, tetapi masih tetap ada hubungan dengan kerajaan Hindu Pajajaran.

Semenjak itu pelabuhan kecil Muara Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan ke arah pedalaman, menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia Tengara. Dari sinilah awal berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar sampai sekarang ini.

Pangeran Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati sekitar Tahun 1430 M, yang letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.